Yulyanto)

Agung (kiri) menerima hadiah buku dari mas Amril, salah seorang pemateri blogshop (foto: Yulyanto)

Kompasiana Blogshop kelima yang diadakan Sabtu (8/8) pagi kemarin kedatangan seorang tamu istimewa. Dia adalah M Priagung (biasa dipanggil Agung) yang sejak awal hingga akhir acara selalu bersemangat mengikuti materi workshop blogging di ruang pertemuan KOMPAS.com.

Saat pertama kali berkomunikasi dengannya, saya yang saat itu menyampaikan materi blogshop bersama mas Amril TG sempat mengira Agung adalah WNA yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Waktu dia kesulitan mengakses wifi KOMPAS.com, saya menanyakan apakah wireless di laptopnya sudah dinyalakan. Tapi yang ditanya tidak langsung menjawab. Agung hanya mengangkat tangan dan bahu tanda tidak mengerti, seraya terus berkomunikasi dengan teman di sampingnya dengan bahasa yang juga tidak terdengar jelas di telinga.

Saya mengira Agung setidaknya berasal dari negeri Jiran atau Cina. Postur tubuhnya yang tinggi dan wajah Mandarinnya semakin menguatkan dugaan tersebut.

Tapi saat istirahat tiba, semuanya baru masuk akal setelah Ibu Endang, guru Agung yang mendorongnya ikut blogshop, menjelaskan kondisi fisik murid kesayangannya ini. “Agung ini bisu dan tuli sejak lahir,” kata bu Endang sambil menjelaskan profesinya sebagai guru di sekolah Fabel, tempat Agung belajar.

Meskipun dua indra komunikasinya, yaitu kemampuan bicara dan mendengar, tidak bekerja optimal, Agung tidak pernah patah semangat. Dia tetap beraktifitas dan bekerja layaknya orang kebanyakan. Dia pernah menjadi designer grafis, pernah menjadi staf administrasi juga pernah membuka usaha toko baju muslim. Saat ini, bersama istrinya, ayah dari Luthfi ini serius menekuni bisnis online marketing bersama istrinya.

“Saya sengaja mengajak dia ke sini agar motivasinya untuk menulis bertambah besar,” kata bu Endang. Dan benar saja, selama workshop, mata Agung tak pernah lepas dari pemateri dan laptop di depannya.

Agung sendiri tidak total bisu dan tuli. Dia masih bisa mengucapkan kata-kata, meskipun untuk memahami perkataannya kita harus ekstra konsentrasi karena kata-kata yang terucap tidak jelas dan patah-patah. Begitu juga dengan pendengaran, dia masih bisa menangkap sedikit suara. “Dia memahami perkataan orang dengan membaca bibirnya,” jelas bu Endang.

Benar saja. Ketika saya berkomunikasi dengan mengucapkan kata per kata dengan perlahan, dia bisa menangkap dan langsung menimpali. Saya pun bisa mendengar ada susunan kata keluar dari mulutnya, meskipun sangat tidak mudah untuk memahaminya. Dan karena ucapannya sulit dimengerti, dia pun terpaksa mengetik apa yang ingin diucapkan di laptop.

Membaca halaman profil blognya, saya bisa membayangkan kisah hidup, pengalaman dan kegetiran hidupnya meskipun dia tidak memaparkan secara panjang lebar. Juga ada trauma berkepanjangan akibat bisnis yang merugi hingga ratusan juta rupiah.

Tapi semangatnya untuk terus maju tak pernah padam. Agung saat ini sedang membuka toko helm tengkorak secara online bersama Habiebie, putra ibu Endang yang juga cacat di bagian kakinya. Selain itu, dia juga bercita-cita menjadi penulis. Beberapa kursus dan pelatihan penulisan dia ikuti. Menurut bu Endang, setelah Kompasiana Blogshop, dia juga akan mengikuti workshop buku bestseller.

Sukses terus untuk Agung, mudah-mudahan tulisan ini menjadi charger tambahan yang bisa menambah semangatnya untuk terus belajar dan berusaha.