menyampaikan materi blog di blogshop pertama

menyampaikan materi blog di blogshop pertama

Jujur, setiap kali berada di tengah-tengah forum workshop bulanan Kompasiana Blogshop, saya merasa bangga. Bukan hanya karena mendapat kesempatan berbagi pengetahuan dan pengalaman, tapi juga lantaran bisa bertemu dengan banyak orang dari beragam latar belakang profesi, usia dan kegemaran. Dan Alhamdulillah, pengalaman beriring teman terus bertambah dari bulan ke bulan, mulai dari blogshop pertama hingga blogshop keempat, Sabtu (8/8) kemarin.

Di Kompasiana Blogshop pertama, misalnya, saya bertemu dengan belasan pelajar SMP dan SMA yang punya semangat tinggi dalam ngeblog. Waktu itu, saya katakan ke mereka bahwa Mark Mullenweg, pendiri WordPress, memulai amaliyah-nya membangun salah satu enjin blog gratisan terpopuler di usia 18 tahun. “Kalian punya kesempatan jadi lebih hebat lagi, karena saat ini usia kalian lebih muda dari si Mark,” ujar saya siang itu, memberi semangat.

Setelah itu, Blogshop diikuti oleh banyak kalangan. Mereka umumnya orang yang tidak malu untuk belajar. Mereka bisa dibilang masuk ke dalam kategori orang-orang yang ‘tahu tidak tahu dan berusaha untuk segera tahu’.

Rentang usia mereka sangat lebar. Mulai dari usia di bawah 15 tahun hingga usia di atas 50 tahun. Profesinya juga beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen, manager perusahaan, pejabat pemerintah, wiraswasta hingga entrepreneur muda.

Dan yang menarik, hampir sebagian peserta sudah punya blog dan sudah biasa menulis di blog. Tapi berhubung Kompasiana Blogshop menawarkan metode ringkas menulis yang cepat, menarik dan bermanfaat ala jurnalis, maka materi yang disampaikan tetap menarik untuk disimak hingga tuntas.

Sebagian dari mereka bahkan mengorbankan banyak hal hanya untuk mengikuti Kompasiana Blogshop. Ibu Nining, misalnya. Dia jauh-jauh datang dari Jepang, tempatnya bekerja selama ini, untuk belajar ngeblog di Jakarta. Memang sih kepulangannya ke Indonesia bukan semata-mata untuk ikut Kompasiana Blogshop pertama, tapi untuk satu tugas di Bali. Tapi yang mengesankan adalah kegigihannya untuk tetap ikut meskipun dia tidak punya banyak waktu di Jakarta.

“Saya datang ke sini untuk belajar. Padahal malam ini saya sudah harus balik ke Jepang. Jadi pesan saya untuk kalian semua, teruslah belajar,” ujarnya, saat bergegas pamit di tengah-tengah acara untuk mengejar jadwal penerbangan ke Narita.

Lalu ada Agung, blogger tunarungu dan tunawicara yang datang bersama gurunya, Endang Setyati, di blogshop keempat kemarin. Kegigihan bu Endang yang selama ini setia mendampingi anak-anak difable dalam meraih mimpi mereka juga terlihat jelas sepanjang acara. Dia selalu memberi motivasi agar Agung terus berlatih dan berlatih.

Selain itu, ada seorang dosen ITB yang jauh-jauh datang dari Bandung untuk mengikuti Kompasiana Blogshop. Berhubung jarak Bandung-Jakarta lumayan jauh, dia harus berangkat pagi-pagi agar bisa tiba tepat jam 10. Tapi berhubung macet, peserta paling semangat bertanya selama sesi diskusi ini datang terlambat. “Saya sudah jalan dari rumah sejak pagi, loh. Makanya mata saya masih merah nih,” ujarnya dengan gaya tutur yang penuh semangat.

Nama dosen ITB ini adalah SBY, alias Seto Bukan Yudhoyono. Nama aslinya sih Rio Seto Yudoyono. Tapi karena nama belakangnya itu tidak pakai huruf H seperti nama presiden kita, jadi boleh dong saya panggil dia SBY juga….

Dan berita bagusnya, pak Rio sedang mempelopori penyelenggaraan Kompasiana Blogshop di Bandung. Jadi buat rekan-rekan di Bandung yang ingin ikut acara, cari tahu informasi awalnya di sini.